Rektor: Wisudawan Universitas Pertamina Telah Dibekali Kemampuan Hadapi Tantangan Global
Kamis, 28 Oktober 2021 - 23:08 WIB
loading...
Rektor UP, Prof. Ir. I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja, Ph.D., Direktur SDM PT Pertamina (Persero) M. Erry Sugiharto dalam Sidang Terbuka Wisuda ke-5 Universitas Pertamina. Foto/Dok/Humas UP
A
A
A
JAKARTA - Laporan bertajuk The Future of Fintech in Southeast Asia yang dirilis September 2020, menyebutkan bahwa Indonesia merupakan ekosistem bisnis rintisan atau startup teknologi paling bernilai di kawasan Asia Tenggara. Meski dihantam pandemi Covid-19, total valuasi startup teknologi di Indonesia, ditaksir mencapai USD35 miliar.
Sementara itu, website Startup Ranking mencatat setidaknya ada 2.229 startup di Indonesia hingga April 2021. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi lima besar negara dengan startup terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari e-Conomy SEA 2020 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, ekonomi digital Indonesia pada 2020 memberikan kontribusi sebesar USD44 miliar atau sekitar Rp619 triliun pada perekonomian.
Baca juga: Beasiswa Ujung Negeri, Ini Kisah Anak Pelosok Kuliah di Universitas Pertamina
Dalam orasi ilmiahnya pada Sidang Terbuka Wisuda ke-5 Universitas Pertamina , Andi F. Noya mengajak wisudawan Universitas Pertamina memanfaatkan dan melihat peluang disrupsi untuk mendirikan bisnis rintisan.
“Kondisi double disruption, yakni disrupsi teknologi dan kondisi pandemi Covid-19, membuat persaingan di semua lini semakin berat. Tantangan ke depan juga akan lebih sulit. Namun disisi lain, bidang pekerjaan yang tercipta juga semakin banyak. Keuntungannya, para wisudawan tidak perlu khawatir lagi jika merasa tidak hepi dengan jurusan kuliahnya. Banyak lulusan teknik yang menjadi wirausaha dengan mendirikan start-up misalnya,” ungkap Andy dalam kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid, Senin (25/10) tersebut.
![Rektor: Wisudawan Universitas Pertamina Telah Dibekali Kemampuan Hadapi Tantangan Global]()
Kepada 455 wisudawan yang mengikuti kegiatan secara luring dan daring, Andy juga menekankan pentingnya mengedepankan nilai kemanusiaan dalam mendirikan bisnis rintisan. ”Kondisi yang terjadi saat ini memaksa semua orang untuk melek teknologi. Ini menjadi tantangan besar terutama bagi orang-orang marjinal yang hidup di pedesaan, juga para pedagang, petani, nelayan, yang punya keterbatasan melakukan perdagangan digital. Namun, ini sekaligus menjadi peluang bagi anak muda yang kreatif dan inovatif. Banyak startup rintisan gen-z yang didirikan dengan mengusung konsep social-entrepreneurship,” pungkasnya.
Sementara itu, website Startup Ranking mencatat setidaknya ada 2.229 startup di Indonesia hingga April 2021. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi lima besar negara dengan startup terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari e-Conomy SEA 2020 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, ekonomi digital Indonesia pada 2020 memberikan kontribusi sebesar USD44 miliar atau sekitar Rp619 triliun pada perekonomian.
Baca juga: Beasiswa Ujung Negeri, Ini Kisah Anak Pelosok Kuliah di Universitas Pertamina
Dalam orasi ilmiahnya pada Sidang Terbuka Wisuda ke-5 Universitas Pertamina , Andi F. Noya mengajak wisudawan Universitas Pertamina memanfaatkan dan melihat peluang disrupsi untuk mendirikan bisnis rintisan.
“Kondisi double disruption, yakni disrupsi teknologi dan kondisi pandemi Covid-19, membuat persaingan di semua lini semakin berat. Tantangan ke depan juga akan lebih sulit. Namun disisi lain, bidang pekerjaan yang tercipta juga semakin banyak. Keuntungannya, para wisudawan tidak perlu khawatir lagi jika merasa tidak hepi dengan jurusan kuliahnya. Banyak lulusan teknik yang menjadi wirausaha dengan mendirikan start-up misalnya,” ungkap Andy dalam kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid, Senin (25/10) tersebut.

Kepada 455 wisudawan yang mengikuti kegiatan secara luring dan daring, Andy juga menekankan pentingnya mengedepankan nilai kemanusiaan dalam mendirikan bisnis rintisan. ”Kondisi yang terjadi saat ini memaksa semua orang untuk melek teknologi. Ini menjadi tantangan besar terutama bagi orang-orang marjinal yang hidup di pedesaan, juga para pedagang, petani, nelayan, yang punya keterbatasan melakukan perdagangan digital. Namun, ini sekaligus menjadi peluang bagi anak muda yang kreatif dan inovatif. Banyak startup rintisan gen-z yang didirikan dengan mengusung konsep social-entrepreneurship,” pungkasnya.
Lihat Juga :